Makna Sebuah Tulisan

Posted by: etisetyarini  |  Category: Sosial dan Politik

Satu peluru hanya mampu menembus satu kepala, tetapi satu telunjuk mampu menembus ribuan kepala.

Sebuah quote yang disampaikan dalam workshop kepenulisan Forum Lingkar Pena, hari ini.

Sebuah makna yang sangat mendalam. Bahwa dengan satu telunjuk (menulis) dapat mencapai sasaran yang lebih jitu daripada sebuah peluru sekalipun.

Semesta ini telah menjadi saksi, bahwa tulisan mampu membuat orang-orang mengenal alam, kalam, dan bahkan pencipta-Nya. Waktu pun telah mengakui, mereka yang mampu membagikan ilmu, menginspirasi, memotivasi sesamanya dengan tulisan, membuat mereka di kenal dunia.

Tulisan adalah gudang ilmu. Apapun itu, dimanapun dan kapanpun..

Mengingat betapa urgentnya sebuah tulisan, maka surat Al Quran yang pertama kali turunpun adalah surat Al Alaq 1-5 yang berisi perintah untuk membaca. Karena pada dasarnya membaca merupakan input untuk menulis. Orang yang hobi membaca kemungkinan besar suka menulis. Maka membacalah, membacalah, membacalah lalu menulislah, menulislah, menulislah..

Mungkin kita dapat belajar dari sosok wanita agung, Ra. Kartini.

Beliau dikenal sebagai tokoh emansipasi wanita yang hidup pada kerangka budaya Jawa yang sedikit sekali memberi ruang kebebasan pada wanita. Cita-citanya untuk memperjuangkan kesetaraan hak bagi kaum wanita tidak ia perjuangkan dengan suara lantang dengan duduk dipemerintahan, anggota dewan, apalagi teriak-teriak di jalanan.

Ia hanya menulis, menulis, dan menulis. Maka dari tulisan surat-surat yang Ia kirimkan kepada teman-temannya lah negeri ini tahu apa yang menjadi pemikirannya, apa yang menjadi harapan besarnya bagi kemajuan wanita Indonesia.

Maka setelah 133 tahun berlalu (21 April 1879-21 April 2012) ketika raga Kartini tidak lagi ada, ketika generasi kita tidak lagi bisa bertatap muka dengannya, hanya dengan tulisan-tulisannya kita mampu mengenalnya secara mendalam. Sehingga pemikirannya, cita-citanya, bahkan jiwanya masih dapat hidup dalam sanubari masyarakat Indonesia.

Menjadi Muslim Inspirasional dalam Kerangka Emansipasi

Posted by: etisetyarini  |  Category: Sosial dan Politik

Dewasa ini istilah emansipasi begitu populer diantara wanita-wanita modern. Dengan dalih kesetaraan gander, banyak wanita memperjuangkan hak-haknya untuk menjadi sama atau bahkan memiliki hak lebih dari seorang laki-laki. Tidak tanggung-tanggung penggiat kesetaraan gander ini justru banyak datang dari mereka yang berpendidikan tinggi, yang notabene menguasai begitu banyak disiplin ilmu.

Seiring berkembangnya zaman, dunia mulai mengenal wanita-wanita pejuang kesetaraan gander ini dengan istilah kaum feminis. Kelompok ini beranggapan bahwa norma-norma budaya Timur, maupun norma-norma Islam yang mengatur kehidupan wanita justru menghambat mereka untuk terus berkembang, berinovasi, dan berkarya. Mereka juga meyakini bahwa kesetaraan gander, khususnya kesetaraan untuk memiliki kiprah sama dengan kaum laki-laki di berbagai sektor, dapat menaikkan gengsinya sebagai kaum wanita. Atas prestasinya di berbagai sektor tersebut, mereka beranggapan bahwa mereka layak menjadi teladan dan inspirasi bagi wanita-wanita dunia.

Ketika kita melihat dari sisi covernya saja, tentu anggapan-anggapan kaum feminis ini terlihat begitu rasional. Di era yang serba canggih dan modern ini, secara logika sudah selayaknya kaum wanita memiliki peran lebih untuk ikut berpartisipasi dalam membangun dunia. Namun ketika kita menilik lebih dalam, ternyata upaya mereka untuk memiliki kesetaraan hak dengan kaum laki-laki cenderung menyimpang dari fitrahnya. Banyak diantara mereka yang lebih mementingkan kariernya di luar rumah, namun justru melupakan kewajiban-kewajiban utamanya sebagai seorang ibu dan seorang istri. Sehingga apa yang mereka lakukan terkadang justru bertentangan dengan esensi Allah dalam menciptakan kaum wanita itu sendiri.

Pandangan kaum feminis yang demikian sesugguhnya sangat bertentangan dengan ajaran agama Islam. Apalagi Indonesia sebagai negara dengan jumlah penduduk muslim terbesar di dunia, sudah sepatutnya wanita-wanita di negeri ini tidak mencerna dan mengikuti begitu saja pandangan para feminis. Karena pada dasarnya Islam telah memiliki tuntunan yang benar dan sesuai dengan petunjuk Allah.

Islam dan Emansipasi
Sebagai agama rahmatan lil ‘alamin, Islam dengan mengatur secara sempurna seluruh aspek kehidupan, tidak terkecuali mengatur tentang hak dan kewajiban kaum wanita. Di dalam agama Islam wanita memiliki kedudukan yang begitu istimewa. Beberapa keistimewaannya tersebut pada dasarnya karena wanita adalah pendamping bagi seorang laki-laki yang akan memberikan dukungan, kenyamanan dan ketenangan dalam menjalankan perannya sebagai khalifah di muka bumi, dan wanita pulalah yang menjadi guru kehidupan bagi generasi penerus bangsa. Oleh sebab itu, tidaklah mengherankan bila sebuah pepatah mengatakan bahwa surga berada di kelapak kaki ibu (wanita).

Keutamaan peran wanita dalam kehidupan tersebut juga menjadi penyebab mengapa Islam memberikan begitu banyak rambu-rambu untuk dipatuhi dan dilaksanakan. Hanya terkadang orang awam justru memandang bahwa rambu-rambu tersebut merupakan sebuah hambatan besar bagi kemajuan wanita. Padahal bila kita mampu menelisik lebih dalam, bisa jadi hal itu adalah sebuah bentuk penghargaan tertinggi bagi kaum wanita. Oleh sebab, Allah SWT jauh lebih tahu apa yang terbaik untuk mahluk ciptaan-Nya. Mungkin saja dengan aturan-aturan tersebut Allah ingin menjaga kehormatan wanita dengan sebaik-baiknya. Ibaratnya agar wanita itu tetap menjadi mutiara meskipun ia harus berada di dalam lumpur. Karena seperti kita tahu, banyak wanita yang memiliki kelemahan dalam hal agamanya.

Di samping itu, sesungguhnya Islam tidak membeda-bedakan kesetaraan antara kaum laki-laki dengan perempuan, sehingga Islam tidak mengenal emansipasi. Di dalam Islam perempuan dan laki-laki dianggap sederajat. Yang membedakannya hanyalah tingkat ketakwaan terhadap Allah Swt. “Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kami di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.” (Qs. Al-Hujurat : 13)

Hanya saja Allah memang menciptakan laki-laki dan perempuan dengan perannnya masing-masing. Mereka memiliki hak dan kewajiban untuk saling mengisi dan melengkapi satu sama lain. Tidak ada istilah laki-laki lebih dominan dibandingkan wanita, dan tidak pula seorang wanita dominan terhadap laki-laki. Kalaupun terlihat dari kaca mata seorang manusia ada salah satu pihak yang dominan, pada dasarnya telah ditentukan sesuai porsinya untuk kebaikan dirinya dan pihak lain.”Kaum laki-laki itu adalah pelindung bagi kaum perempuan, oleh karena Alloh telah melebihkan sebagian mereka (laki-laki) atas sebagian yang lain (perempuan) dan karena mereka (laki-laki) telah memberi nafkah dari hartanya…” (QS. An-Nisa:34)

Tidak hanya itu, Allah SWT juga telah memperingatkan agar kita tidak iri satu sama lain, termasuk iri dalam persoalan hak dengan kaum laki-laki. Dalam Al Qur’an Surat An-Nisa ayat 32 telah disebutkan:“Dan janganlah kamu iri hati terhadap apa yang dikaruniakan Allah kepada sebagian kamu lebih banyak dari sebagian yang lain. (Karena) bagi orang laki-laki ada bahagian daripada apa yang mereka usahakan, dan bagi para wanita(pun) ada bahagian dari apa yang mereka usahakan, dan mohonlah kepada Allah sebagai bagian dari karunia_Nya. Sesungguhnya Alloh mengetahui segala sesuatu.”

Muslimah Pejuang Emansipasi
Berbicara tentang emansipasi tidak dapat lepas dari sosok R.A Kartini, seorang muslim tulen yang berusaha keras memperjuangkan diskriminasi berlebihan terhadap kaum wanita pada zamannya. Pada saat itu perempuan sulit untuk memperolah akses pendidikan. Kalaupun memperoleh akses pendidikan, mereka tidak diperkenankan mengenyam pendidikan hingga level tinggi layaknya kaum laki-laki. Rata-rata mereka hanya boleh mengenyam pendidikan hingga berumur 11-12 tahun. Saat usia mereka mencapai 12-14 tahun mereka harus menjalani masa pingit hingga mereka menikah. Pekerjaan yang boleh dilakukan pada masa pingit ini hanya sebatas pekerjaan perempuan seperti memasak, menjahit, menari, dsb.

Apa yang diperjuangkan Kartini pada saat itu berbeda dengan apa yang diperjuangkan wanita sekarang. Pada saat itu Kartini hanya menginginkan agar kaum wanita mendapat pendidikan yang layak. Hal itu bukan berarti ia menginginkan kesetaraan gander dalam berbagai aspek kehidupan, melainkan hanya demi memperjuangan hak muslimah demi mencapai hak-hak seorang muslim yang sebenarnya, yang juga bermanfaat untuk muslimah itu sendiri. Sebab menurut Kartini, dengan menuntut ilmu, akan berpengaruh lebih pada kewajiban bagaimana perempuan itu bisa menempatkan diri pada kawajiban atau fitrahnya seharusnya ia berada. Niatnya tersebut terlihat dalam surat yang ia tulis kepada Prof Anton dan Nyonya, 4 Oktober 1902.“Kami di sini memohon diusahakan pengajaran dan pendidikan anak perempuan, bukan sekali-kali karena kami menginginkan anak-anak perempuan itu menjadi saingan laki-laki dalam perjuangan hidupnya. Tapi karena kami yakin akan pengaruhnya yang besar sekali bagi kaum wanita, agar wanita lebih cakap melakukan kewajibannya, kewajiban yang diserahkan alam sendiri ke dalam tangannya: menjadi ibu, pendidik manusia yang pertama-tama.”

Dari sinilah kita dapat menyimpulkan bahwa apa yang diperjuangkan Kartini tidak sama dengan pandangan kaum feminis. Apa yang diperjuangkannya justru mencerminkan sosok wanita muslim yang benar-benar mengerti kedudukannya sebagai seorang wanita dan mengerti bagaimana harus bersikap dengan benar atas kedudukannya tersebut.

Menjadi Muslimah yang Menginspirasi
Terlepas dari anggapan orang awam yang mengatakan bahwa Islam menghambat kemajuan karena mematikan kreativitas dan menelantarkan sumber daya kaum wanita, pada dasarnya Islam memberi ruang gerak seluas-luasnya bagi penganutnya untuk menjadi sosok yang bisa berkarya dan bermanfaat untuk orang lain dengan cara dan karakternya sendiri, sepanjang tidak bertentangan dengan norma-norma agama Islam. Karena pada hakikatnya Islam menyadari jika wanita adalah sosok kunci bagi kebaikan orang-orang di sekitarnya. Ia memiliki kewajiban menjadi pendukung suaminya, menjadi guru bagi anak-anaknya, bahkan menjadi manajer yang baik untuk keluargnya. Di samping itu, Islam juga mengerti bahwa wanita harus berkiprah di lingkungan sosial lainnya, untuk membantu sesama, mendakwahkan agama. Oleh sebab itu Allah berifrman bahwa sebaik-baiknya manusia adalah yang paling bermanfaat orang lain.

Cara islam memberi kesempatan wanita muslim berkarya tentu tidak melepaskan fitrahnya sebagai kaum wanita. Islam memiliki teladan wantia-wanita hebat yang dapat menjadi inspirasi bagi kaumnya. Wanita-wanita itu adalah wanita yang aktif di ranah publik namun ia sendiri juga masih dapat berperan sesuai kodratnya dengan baik di dalam keluarga. Wanita-wanita itu diantaranya Khadijah dan Aisyah Radhiyallahu’anha.

Sebagaimana kita tahu, Khadijah adalah istri pertama Rasulullah SAW, sosok wanita solehah, cerdas, dan sukses dalam berwirausaha. Namun dibalik kesuksesannya ia tetap menjalakan perannya sebagai istri dengan baik. Ia tetap berbakti menjalankan perannya menjadi istri seorang nabi. Bahkan ia adalah orang yang paling setia menemani Rasulullah SAW saat menemui hari-hari sulitnya. Misalnya saja ketika Rasulullah demam tinggi setelah menerima wahyu yang pertama, dengan segala kelembutan ia menenangkan Rasulullah dan mencari jalan keluar dengan bertanya kepada sanak saudaranya. Di sisi lain Khadijah tidak menggunakan materi yang diperolehnya untuk meningkatkan prestige pribadi layaknya kaum feminis. Tetapi ia menggunakan harta kekyaannya di jalan Allah, seperti untuk bersedekah dan memerdekakan budak.

Sedangkan Aisyah adalah sosok wanita pandai, patuh, dan perawi hadist paling otentik. Aisyah juga dikenal sebagai seorang wanita cerdas yang kritis dan memiliki kemampuan publik speaking yang bagus. Hal itu dibuktikan dengan kehandalannya menjadi orator di depan umum untuk menyampaikan sunnah dan fiqih. Seperti Khadijah, Aisyah juga gemar bersedekah di jalan Allah, hingga tidak ada hartanya yang tertinggal di dalam rumah.

Namun di balik aktivitasnya di ranah publik, kita juga tahu bahwa istri yang paling dicintai Rasulullah ini juga sosok perempuan yang selalu memberikan hal terbaik untuk suaminya. Ia dikenal sebagai salah istri yang selalu berpenampilan menarik di depan Rasulullah. Bahkan kecantikan sekaligus kepiawaiannya menjaga penampilan di depan suami, membuatnya dijuluki Sang Humaira.

Dari sini kita dapat belajar, pada dasarnya wanita yang menyadari akan fitrahnya, masih dapat berperan dalam banyak hal dikehidupan ini. Ia dapat pula menjadi orang yang bermanfaat dan menginspirasi orang lain tanpa harus bertindak di luar apa yang telah digariskan Sang Maha Kuasa.

Eti Setyarini, Mahasiswi Administrasi Negara, FISIP UNS 2010